WARUNG NAGKRINGAN MAS CATUR
Rahmat Munazil: 30.06.4.1.005
"Bisnis" hik berkembang pesat di kota Solo dan Yogyakarta. Di setiap ruas jalan utama ataupun gang kampung dapat dengan mudah ditemui para pedagang nasi kucing dan berbagai lauk sederhana pendukungnya. Bahkan, jika dulu warung ini dikenal juga sebagai warung remang karena buka malam hari dengan penerangan lampu minyak, saat ini di siang hari pun telah mulai bertebaran di setiap sudut permukiman. Di tengah mencekiknya harga makanan, angkringan makin ramai. Mereka menjadi pilihan karyawan dan PNS di tanggal tua.
Di setiap emper pertokoan dan tikungan di Solo dan Yogyakarta kita selalu menemui gerobak angkringan. Di gerobak ini berbagai jenis makanan rakyat dijajakan: tahu, tempe, pisang goreng, singkong rebus, kacang bawang, sosis, bihun, ataupun bakmi goreng. Berbagai minuman juga tersedia: teh panas, kopi, dan wedang jahe. Dan yang paling khas adalah "nasi kucing", nasi yang dibungkus dengan porsi "minimalis" seperti jatah makan kucing.
Di Surakarta, pedagang angkringan sering dijuluki hik. Entah dari mana asal kata itu, yang pasti dulu mereka berjualan berkeliling kota sambil sesekali berteriak"hik!" untuk memanggil pembeli. Ada yang bilang hik itu dari "heik" bahasa Jepang yang berarti "ya".
Pedagang hik biasanya berjualan sepanjang malam. Meski bekerja sepanjang malam, penghasilan mereka tak seberapa. Sebab, sebagian besar dagangan mereka titipan. Pedagang hanya mendapat komisi dari penjualan makanan itu.
Berbeda dengan warung hiknya mas Catur ini, yang bernama lengkap Catur Hardiyanto lahir pada tanggal 17 November 1974 di Kartasura, yang beralamat di Kemasan Rt 01/ 07 Ngadirejo Kartasura, bapak dengan 2 orang anak ini, berdagang dengan sebagian besar dagangannya sendiri, tiap sore mas Catur memasak sendiri sebagian besar dagangannya sendiri yang dibantu oleh istrinya. Pedagang hik yang mangkal di pertigaan kemasan Rt 01/ 09 dekat SD Kartasura 4, Solo ini berkata: "Jangan dikira setiap hari kami dapat jutaan rupiah. Itu keliru. Paling banter cuma bisa bawa pulang 500 ribu hingga 700 ribu rupiah kotor."
Warung hik punya mas Catur ini berbeda dengan warung hik lainnya, yang biasanya hanya menggelar dagangan dengan memasang tutup gerobak tenda. tetapi mas Catur mempunyai tempat tetap mangkal sendiri yang berbentuk rumahan dan nasi kucing ditempat mas Catur ini tidak memakai bungkusan lagi tetapi memakai piring, walaupun memakai piring nuansa nasi kucingnya masih kental yaitu nasi putih dan secuil daging ikan bandeng.
Sebenarnya mas Catur lebih suka berjualan dangangan lain. Tapi apa boleh dikata, berbagai jenis usaha yang pernah dilakoninya gagal. "Mungkin ndak hoki," katanya sembari tertawa. "Barangkali memang bakat saya jualan wedang dan jajanan angkring."
Ia pernah merantau ke Sumatera dan pernah juga dia ke Jakarta, tapi gagal. Kemudian dia membuka warung hik tersebut mulai tahun 1999. Sejak harga kebutuhan sembilan bahan pokok mencekik leher, nasi kucing yang murah meriah menjadi alternatif. "Kandungan gizi tidak penting-penting amat. Pokoknya asal murah meriah dan kenyang," kata mas Catur sembari tertawa.
Sebagai seorang Muslim mas Catur menjalankan bisnisnya dengan ketentuan-ketentuan yang sudah disyariatkan Islam dia tidak mau melakukan hal-hal yang diharamkan oleh Islam, seperti melakukan hal-hal yang menipu pembeli dan menjual makanan yang diharamkan oleh Islam, seperti daging babi, dideh (darah yang dimasak) dan yang lainnya yang diharamkan oleh Islam, yang dijual di warung hiknya mas Catur ini semua halal.
Dulu mas Catur ini juga mempuyai pembantu untuk melayani pembeli, tetapi kemudian keluar. Dalam menggaji karyawannya ini mas Catur juga menggunakan sistem yang ada dalam Islam yaitu membayar "sebelum kering keringatnya" dia membayar sesuai dengan apa yang dia sudah sepakati dengan karyawannya itu dengan tidak mengundur-undur pembayaran.
Demikian tadi hasil wawancara kami dengan pedagang hik/ angkringan mas Catur. Angkringan yang dulu menjadi ikon kaum papa seperti pengayuh becak dan buruh kecil, kini menjadi warung alternatif bagi orang-orang yang mulai terbelit kesulitan ekonomi. Orang-orang kelas menengah seperti karyawan, pegawai negeri sipil, dan polisi atau anggota TNI pun tak jarang menyantap nasi kucing.
Selasa, 12 Januari 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar